Zaman terus berkembang, kini tradisi Dandangan tidak hanya sebatas
menunggu beduk Menara Kudus ditabuhkan menjelang bulan Ramadan. Namun
sudah menjelma menjadi tradisi atau dengan istilah lain yakni event yang tidak hanya dimiliki oleh masyarakat muslim saja, tetapi masyarakat non-muslim juga menyambutnya dengan suka cita.
Membawa Berkah
Jika dahulunya masyarakat hadir ke Masjid Menara pada akhir Sya’ban
menjelang awal Ramadan untuk menantikan pengumuman awal puasa. Kini,
tradisi Dandangan bermetamorfosis menjadi tradisi yang besar dan meriah.
Termasuk kemeriahannya membawa berkah kepada masyarakat luas. Selama
tiga pekan menjelang ramadan, jalanan di sekitar kompleks masjid Menara
dan makan Sunan Kudus, tumpah dibanjiri oleh para pedagang yang
menjajakan segala macam barang dagangan, mulai dari makanan, pakaian,
mainan anak-anak, aksesori, hingga kebutuhan sehari-hari.
Selain menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang hendak
berziarah ke makam Sunan Kudus, tetapi juga masyarakat yang hanya
sebatas ingin menikmati kemegahan bangunan Menara. Menara masjid pertama
di pulau Jawa ini dibangun oleh Sunan Kudus begitu megah dan menarik
karena bangunannya mirip dengan Pura tempat beribadah orang Hindu. Bukan
tanpa maksud Sunan Kudus membangun seperti itu, sebab beliau berdakwah
di daerah Kudus yang pada saat itu mayoritas masih beragaman Hindu.
Strategi Sunan Kudus melakukan pendekatan akulturasi budaya, seperti
Menara tersebut yang bercirikan Islam dan Hindu. Tidak heran jika Menara
Kudus mendapat predikat sebagai simbol toleransi.
Momentum Kerukunan Masyarakat
Semaraknya tradisi Dandangan tidak hanya disambut hangat oleh
masyarakat muslim, tetapi termasuk juga masyarakat non-muslim. Tidak
sedikit dari masyarakat non-muslim yang ikut menjajakan dagangannya atau
hanya sebatas datang untuk melihat Menara Kudus dari dekat.
Bebarapa tahun terakhir, Pemda kabupaten Kudus rutin mengadakan kirab budaya sebagai penanda resmi dibukanya tradisi Dandangan.
Dalam kirab tersebut ditampilkan kesenian, kebudayaan dan hasil Bumi
dari masyarakat Kudus. Tidak heran jika tradisi Dandangan sudah hajat
Pemda Kudus, karena momentum yang tepat untuk menyatukan masyarakat
Kudus tanpa membeda-bedakan agama.
Tradisi Dandangan akan terus berjalan apabila masyarakat berkenan
untuk terus melestarikannya. Tidak hanya sebatas melestarikan, tetapi
juga harus memahami subtansi dari tradisi tersebit. Karena inti dari
tradisi Dandangan, bagi masyarakat muslim adalah menyongsong sekaligus
mengingatkan untuk mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin dalam
melaksanakan peribadatan di bulan suci Ramadan.
Sumber :Tradisi Kota Kudus






0 komentar:
Posting Komentar